Panduan Beternak Belut di Pekarangan Rumah versi 7saudara.com

Beternak Belut di Pekarangan Rumah – Belut merupakan jenis ikan yang memiliki banyak kandungan gizi dan sangat di gemari oleh masyarakat Indonesia. Dulu diera tahun 90-an masyarakat Indonesia hanya mengenal belut sawah dan belut liar. Artinya, Belut sawah adalah belut yang hidupnya di sawah sedangkan belut liar adalah belut yang hidupnya di sungai, waduk, bendungan dll. Sehingga dari tempat hidupnya belut, membuat para pencari ikan (nelayan) kesulitan untuk menangkap belut.

Namun diera serba modern saat ini, ternyata belut bisa di budidaya di pekarangan rumah. Caranya pun cukup mudah, dengan modal gentung atau terpal anda sudah bisa budidaya belut. Hanya saja sekarang ini budidaya belut masih terkendala dari pembibitan. Bibit biasanya diambil langsung dari sawah atau sungai. Belum banyak masyarakat yang budidaya bibit belut.

Lokasi ideal untuk budidaya belut

Lokasi untuk budidaya belut tidak lah sulit untuk daerah di Indonesia. Umumnya belut hidup di sawah sedangkan sawah hampir ada di semua daerah di Indonesia, baik itu di dataran rendah, tinggi, curah hujan tingi, curah hujan rendah dll.

Yang perlu diperhatikan untuk lokasi budidaya belut ini adalah tempat yang bersih (tidak tercemar limbah pabrik, deterjen, pestisida dll) dan suhu udara paling baik untuk budidaya belut adalah 25 – 31 derajat celcius.

Cara Ternak Belut di Pekarangan Rumah

Berikut ini merupakan rangkaian cara berternak belut di pekarangan rumah:

1. Peralatan Utama Kolam

Berikut ini beberapa syarat peralatan utama untuk membuat kolam. Adapun kolam yang akan dibuat berasal dari drum atau tong yang terbuat dari plastik.

  • Drum plastik
  • Paralon
  • Ember
  • Cangkul
  • Baskom
  • Jerigen
  • Kawat Kasa

2. Teknik ternak Belut

Berikut ini merupakan teknik ternak belut yang perlu diperhatikan, supaya ternak bisa berjalan lancar dan belut bisa berkembang biak sehingga membuahkan hasil. Adapun tekniknya sebagi berikut :

A. Media tempat ternak (drum)

Tempat ternak ini akan menggunakan drum yang. Drum yang di pakai sebaiknya berbahan plastik, namun jika tidak ada drum dari besi pun boleh yang penting tidak berkarat. Jika drum berbahan besi berkarat sebaiknya karatnya dibersihkan dahulu baru kemudian di cat. Adapun tahapan-tahapan drum sebagai media ternak sebagai berikut :

  1. Letakkan drum di atas permukaan tanah yang datar. Posisikan drum terlentang (bagian panjang drum menyentuh tanah). Hal ini dilakukan supaya media ternak lebih luas.
  2. Lubangi (buka) bagian atas drum dan sisakan 10 cm pada sisi kanan dan kiri
  3. Buat saluran pembuangan dibagian bawah drum
  4. Letakkan drum di tempat yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung.

B. Media Tanah

Tanah yang baik untuk beternak belut adalah tanah yang tidak mengandung pasir dan juga tidak terlalu liat namun memiliki kandungan hara yang cukup. Jika anda bingung memilih tanah sebagai media tempat ternak belut, anda dapat mengambil tanah dari sawah. Jika tanah sudah didapat selanjutnya, proses pematangan tanah untuk tempat tinggal belut. Adapun tahapan-tahapan pematangan tanah sebagai berikut :

  1. Masukkan tanah kedalam drum hingga ketinggian tanah 40 cm dari bawah.
  2. Masukkan air kedalam drum hingga tanah menjadi becek namun air tidak menggenang
  3. Campurkan EM 4 kedalam drum sebanyak 4 botol kemudian di aduk hingga rata
  4. Campuran tanah dan EM 4 dapat anda aduk sehari 2 kali sehingga tanah menjadi lembut dan gambut.

Perlu diketahui bahwa perlakuan tanah diatas tidak berlaku jika tanah berasal dari tanah sawah.

C. Media Instan Bokashi

Bokashi merupakan metode pengomposan bahan organik. Untuk drum yang berukuran 200 liter setidaknya membutuhkan 40 kg bokashi. Adapun bahan-bahan utama untuk pembuatan bokashi sebagai berikut :

  • Jerami padi (40 persen)
  • Pupuk Kandang (30 persen)
  • Bekatul (20 persen)
  • Potongan batang pisang (10 persen)

Adapun bahan campurannya terdiri atas

  • EM4
  • Air Sumur
  • Larutan 250 gram gula pasir untuk menghasilkan 1 liter larutan molases.

Pembuatan media bokashi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Cacah jerami dan potongan batang pisang menjadi kecil-kecil kemudian dikeringkan. Tandanya jika sudah kering adalah jerami dan potongan batang pisang akan hancur ketika digenggam.
  • Campurkan bahan cacahan tersebut dengan bahan utama dan bahan campuran lainnya dan aduk hingga merata.
  • Tutup media dengan karung goni atau terpal selama 4-7 hari. Aduk 2 hari sekali media campuran supaya merata.

Perlu diketahui bahwa Pembuatan media bokashi ini dilakukan di tempat lain tidak di campur dengan media tanah.

D. Proses pencampuran media tanah dengan media bokashi

Jika pembuatan media bokashi sudah mencampai 4 – 7 hari, selanjutnya adalah proses pencampuran antara media tanah dengan media bokashi. Adapun tahapan-tahapan pencampuran media tanah dengan media bokashi sebagai berikut :

  • Masukkan media Bokashi kedalam drum sedikit demi sedikit kemudian aduk hingga merata.
  • Masukkan air bersih kedalam drum hingga ketinggian air mencapai 5 cm diatas media tanah dan diamkanlah hingga terdapat plankton atau cacing (sekitar 1 minggu) selama proses ini berlangsung tong tidak perlu ditutup.
  • Keluarkan air dari tong dan ganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama.
  • Masukkkan tumbuhan-tumuhan air seperti eceng gondok yang tidak terlalu besar sebanyak 3/4 bagian dan ikan-ikan kecil.
  • Masukkan vetsin secukupnya sebagai perangsang nafsu makan belut dan diamkan selama 2 hari.

E. Masukkan bibit Belut

Setelah media untuk ternak belut diatas sudah siap, selanjutnya yaitu memasukkan bibit belut kedalam drum. Untuk satu drum bibit belut bisa di tebar sebanyak 160 – 200 ekor.

3. Perawatan

Perawatan belut yang diternak didalam drum relatif lebih mudah karena pemantauan budidaya juga lebih mudah. Tetapi demikian perawatan harus tetapi diperhatikan, adapun perawatannya sebagai berikut :

a. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari cacing, kecebong, ikan-ikan kecil, dan cacahan keong mas atau bekicot. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut makan dialam bebas, yaitu sore dan malah hari dan lakukan setiap hari.

b. Pengaturan Air
Pengaturan air sangat diperlukan untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk dan menimbulkan penyakit bagi belut. Pengaturan air ini dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air bersih kedalam tong. Sebaiknya air yang masuk berupa percikan air, dan hal ini sangat cocok dilakukan dengan menggunakan pipa paralon sebagai media aliran. Sementara untuk saluran pembuangan dapat dilakukan dengan membuat lobang pada tong di ketinggian 8 cm dari genangan air pada media. Selain itu untuk mengatur pembuangan sisa kotoran percikan air juga sangat bermanfaat untuk menambah oksigen.

c. Perawatan Tanaman Air

Tanaman air ini juga digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat ternak dan juga menjaga belut dari kepanasan yaitu belut terkena sinar matahari langsung.

d. Pemberian EM4

EM4 berfungsi untuk menetralisir sisa-sisa pakan. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau. EM4 diberikan 2-3 kali sehari dengan dosis 1/2 sendok makan yang terlebih dilarutkan dalam 1 liter air.

e. Perawatan Disekitar Lokasi

Perawatan di sekitar lokasi ini dilakukan untuk menjaga drum dari tanaman liar, lumut, dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.

4. Pemanenan

Pemanenan bisa dilakukan setelah umur 3–4 bulan, atau sesuai keinginan kita bisa lebih dari 4 bulan atau bisa juga pas 4 bulan. Ternak belut menggunakan media drum mempunyai kelebihan saat panen yaitu belut mudah di panen, tidak perlu ramai, sendiri juga sudah bisa.

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan mengenai Beternak Belut di Pekarangan Rumah, semoga informasi ini bisa bermanfaat. Salam…

===========Iklan Google== =========

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *